Saturday, October 25, 2008

Sambiloto, Penawar Bisa Ular

Nama : Sambiloto (Andrographis paniculata) Perkembangbiakan : Biji atau setek batang
Tempat tumbuh : Dataran rendah sampai 700 m diatas permukaan laut
Khasiat : Sebagai obat demam, peluruh air seni, untuk sakit perut atau untuk kencing manis.Disamping itu dapat dipakai sebagai obat luar untuk gatal gatal dan penawar bisa ular atau gigitan serangga beracun lainnya.

Tempat asal tumbuhan ini belum diketahui dengan pasti, tetapi diduga berasal dari Asia tropik.Selain di Indonesia, juga banyak terdapat di kawasan India dan Filipina. Daun dan batang tumbuhan ini rasanya sangat pahit karena mengandung senyawa yang disebut andrographolid yang merupakan senyawaan keton diterpena.Senyawaan ini diduga merupakan salah satu zat aktif dari daun sambiloto yang juga banyak mengandung unsur unsur mineral seperti kalium, kalsium dan asam kersik

Kecibeling

Nama : Kecibeling (Hemigraphis alternata)
Perkembangbiakan : Stek batang
Tempat tumbuh : Dataran rendah
Khasiat : Daun nya sebagai obat batu ginjal, peluruh seni,disentri dan wasir

Berupa terna merambat.Batang dan daunnya berbulu.Panjang batangnya mencapai 30 sampai 75 cm.Daunnya bundar telur sampai jorong dengan dasarnya berbentuk jantung, warnanya hijau tua pada permukaan atasnya, sedang permukaan bawahnya berwarna kelabu.Daunnya banyak mengandung unsur unsur mineral, terutama kalium.Juga terdapat sedikit natrium, kalsium dan beberapa unsur lainnya.

Orang Utan, Satwa Yang Terancam Punah

Orang utan ditemukan di wilayah hutan hujan tropis Asia Tenggara yaitu di pulau Borneo dan Sumatra di wilayah bagian negara Indonesia dan Malaysia. Mereka biasa tinggal di pepohonan lebat dan membuat sarangnya dari dedaunan. Orangutan dapat hidup pada berbagai tipe hutan, mulai dari hutan dipterokarpus perbukitan dan dataran rendah, daerah aliran sungai, hutan rawa air tawar, rawa gambut, tanah kering di atas rawa bakau dan nipah, sampai ke hutan pegunungan. Di Borneo orangutan dapat ditemukan pada ketinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl), sedangkan kerabatnya di Sumatera dilaporkan dapat mencapai hutan pegunungan pada 1.000 m dpl.

Orangutan Sumatera (Pongo abelii lesson) merupakan salah satu hewan endemis yang hanya ada di Sumatera. Orangutan di Sumatera hanya menempati bagian utara pulau itu, mulai dari Timang Gajah, Aceh Tengah sampai Sitinjak di Tapanuli Selatan.Keberadaan hewan mamalia ini dilindungi Undang-Undang 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan digolongkan sebagai 'Critically Endangered' oleh IUCN. Di Sumatera, salah satu populasi orangutan terdapat di daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru, Sumatera Utara. Populasi orangutan liar di Sumatera diperkirakan sejumlah 7.300. Di DAS Batang Toru 380 ekor dengan kepadatan pupulasi sekitar 0,47 sampai 0,82 ekor per kilometer persegi. Populasi orangutan Sumatera (Pongo abelii lesson) kini diperkirakan 7.500 ekor. Padahal pada era 1990 an, diperkirakan 200.000 ekor. Populasi mereka terdapat di 13 daerah terpisah secara geografis. Kondisi ini menyebabkan kelangsungan hidup mereka semakin terancam punah.Saat ini hampir semua orangutan sumatera hanya ditemukan di Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Aceh, dengan Danau Toba sebagai batas paling selatan sebarannya. Hanya 2 populasi yang relatif kecil berada di sebelah barat daya danau, yaitu Sarulla Timur dan hutan-hutan di Batang Toru Barat. Populasi orangutan terbesar di Sumatera dijumpai di Leuser Barat (2.508 individu) dan Leuser Timur (1.052 individu), serta Rawa Singkil (1.500 individu). Populasi lain yang diperkirakan potensial untuk bertahan dalam jangka panjang (viable) terdapat di Batang Toru,Sumatera Utara, dengan ukuran sekitar 400 individu.

Orangutan di Borneo yang dikategorikan sebagai 'endangered' oleh IUCN terbagi dalam tiga subspesies: Orangutan di Borneo dikelompokkan ke dalam tiga anak jenis, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus yang berada di bagian utara Sungai Kapuas sampai ke timur laut Sarawak; Pongo pygmaeus wurmbii yang ditemukan mulai dari selatan Sungai Kapuas hingga bagian barat Sungai Barito; dan Pongo pygmaeus morio, diperkirakan secara total populasi liarnya di alam hanya 45.000 hingga 69.000. Di Borneo, orangutan dapat ditemukan di Sabah, Sarawak, dan hampir seluruh hutan dataran rendah Kalimantan, kecuali Kalimantan Selatan dan Brunei Darussalam.

Jawer Kotok

Tumbuhan ini berasal dari Asia Tenggara dan di Indonesia cukup dikenal karena sering ditanam sebagai tanaman hias.Jawer kotok termasuk tanaman hias yang menarik karena mempunyai rupa rupa bentuk daun dan macam macam warnanya.Ada yang mempunyai daun yang berwarna hijau seluruhnya, yang lainnya mempunyai macam macam warna campuran hijau-kuning atau hijau-lembayung, sedang yang lainnya lagi berwarna hijau dihiasi dengan garis garis atau totol lembayung.Disamping itu jawer kotok juga dikenal sebagai tumbuhan obat. Tumbuhan ini berupa terna setahun yang tumbuhnya tegak atau merayap.Tingginya dapat mencapai 150 cm.Batangnya berbulu, bentuknya segiempat dengan alur yang agak dalam pada masing masing sisinya.Bentuk daunnya jorong sampai bundar memanjang.Bunganya berwarna ungu atau merah-kuning, tersusun dalam rangkaian malai yang terdapat tergantung pada ujung ujung tangkai. Jawer kotok banyak dijumpai di dataran rendah maupun daerah pegunungan sampai 1300 m di atas permukaan laut.Tumbuhan ini mudah diperbanyak dengan biji atau dengan stek batang Dari tumbuhan ini dapat diperoleh macam macam manfaat untuk pengobatan.Akarnya berguna sebagai obat mencret dan sebagai penawar kejang.Air seduhan daunnya berguna untuk wasir, batu ginjal atau untuk obat cacing.Air perasan daun yang masih segar berguna sebagai obat tetes untuk sakit telinga atau sebagai antiseptik pada waktu memotong tali pusar bayi.Daun yang masih segar, setelah diolesi minyak kelapa dan dipanaskan di atas api, dapat dipakai untuk bobok bisul agar lekas pecah. Daun jawer kotok mengandung minyak atsiri sampai 0,025 %.Minyak tersebut mengandung thymol, karvakrol, eugenol, metileugenol dan etilsalisilat.