Saturday, October 25, 2008

Harimau Sumatera

Sumatera adalah satu-satunya tempat dimana populasi harimau Sumatera dapat ditemukan di alam. Saat ini kurang dari 400 ekor saja yang diperkirakan bertahan hidup di alam bebas.. Harimau Sumatera adalah sub spesies berukuran tubuh terkecil dari jenis harimau dan masih ditemukan tersebar di hutan-hutan Sumatera. Meskipun demikian, habitat utama Harimau Sumatera saat ini terus menerus dikonversi untuk berbagai peruntukan,khususnya menjadi perkebunan, dan pemukiman penduduk. Sementara ancaman akibat aktivitas pembalakan liar dan perburuan juga sangat tinggi. Temuan: Dalam upaya untuk lebih memahami dan melindungi populasi harimau yang ada di dunia, WWF, WCS, STF dan Smithsonian National Zoological Park pada tahun 2006 ini berhasil menganalisis dan membuat skala prioritas untuk habitat harimau di Sumatera. Habitat harimau di Sumatera dikategorikan menjadi 12 lansekap pelestarian harimau atau “tiger conservation landscapes” (TCLs), dimana dua diantaranya diidentifikasi sebagai prioritas bagi konservasi harimau di dunia. Kerinci Seblat adalah salah satu prioritas global konservasi harimau, dengan luas habitat sekitar 19.653 km2 yang mencakup hutan tropis and sub-tropis lembab (moist broadleaf) dan hutan konifer tropis and subtropis. Prioritas global lainnya adalah Bukit Tigapuluh, yang mencakup sekitar 5.417 km2 habitat Harimau Sumatera. Kedua lokasi ini diklasifikasikan sebagai prioritas global karena menawarkan harapan bagi pelestarian jangka panjang Harimau Sumatera, yaitu dengan ditemukannya populasi yang terus berkembang serta didukung species satwa mangsa yang mencukupi. Kedua lokasi ini juga memiliki areal habitat yang mencukupi, serta relatif sedikit atau kurang mendapatkan ancaman. Selain itu, indikator-indikator pelestarian, baik di tingkat lokal dan nasional, juga telah terbentuk guna memastikan berlangsungnya konservasi jangka panjang bagi Harimau Sumatera. 12 Tiger Conservation Landscapes di Sumatera: Dua belas (12) lansekap pelestarian harimau atau “tiger conservation landscapes” (TCL s) yang masih menawarkan substansial habitat untuk menyelamatkan populasi Harimau Sumatera adalah: Tesso Nilo, Bukit Barisan Selatan, Bukit Tigapuluh, Kerinci Seblat, Kuala Kerumutan, Bukit Balai Rejang-Selatan, Bukit Rimbang Baling, Rimbo Panti-Batang Timur, Rimbo Panti-Batang Barat, Leuser, Berbak and Sibolga. Di Sumatera, WWF, WCS dan mitra LSM lainnya akan memfokuskan waktu dan sumberdaya yang dimiliki untuk: menyelamatkan harimau dari aktivitas perburuan; menyelamatkan habitat harimau dari konversi; memperluas kawasan lindung yang ada demi tersedianya wilayah jelajah yang lebih luas bagi harimau; menghubungkan habitat-habitat didalam lansekap melalui koridor satwa; dan melakukan pendekatan kepada perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah jelajah harimau guna mengintegrasikan kebijakankebijakan konservasi harimau dalam operasionalnya. Sebagian besar dari habitat Harimau Sumatera terkonsentrasi di daerah perbukitan di Sumatera, dimana mayoritas kawasan konservasi berada. Meskipun demikian, kawasan konservasi tidak serta merta kebal terhadap ancaman kerusakan, Bukit Barisan Selatan (wilayah paling selatan TCL) misalnya, meskipun statusnya telah dilindungi sebagai taman nasional namun masih mengalami kerusakan yang cukup tinggi. Dari semua negara yang memiliki lansekap pelestarian harimau, Indonesia, dalam hal ini Sumatra adalah satu-satunya lokasi dimana harimau, gajah, dan badak berada dalam lansekap yang sama. Kesemua species ini terancam oleh kerusakan habitat dan perburuan. Oleh karena itu, sumberdaya yang dikeluarkan untuk mendukung pelestarian habitat harimau di Sumatera, tidak hanya akan menyelamatkan harimau, tetapi juga species satwa dilindungi lainnya. WWF dan mitra LSM lainnya telah membuat beberapa capaian di Sumatera bagian tengah. Pada tahun 2005, WWF berhasil melobi perusahaan pemilik konsesi dan pemerintah untuk menetapkan status taman nasional pada salah satu lansekap, Tesso Nilo—salah satu blok hutan hujan tropis dataran rendah yang menjadi habitat harimau di Sumatera. Berangkat dari keberhasilan ini, WWF berusaha untuk melobi pemerintah dan perusahaan agar berkomitmen terhadap perlindungan kawasan disekitar Tesso Nilo sehingga harimau bisa men dapatkan wilayah jelajah yang aman didalam dan diluar taman nasional. Analisis TCL mengindikasikan bahwa lansekap-lansekap pelestarian harimau cenderung mengelompok, sehingga ada potensi terbantuknya lansekap yang lebih besar jika habitat satwa dapat di hubungkan kembali dengan koridor satwa. WCS Indonesia Program (WCSIP) merupakan salah satu organisasi yang mengawali upaya konservasi harimau Sumatera di Sumatera secara komprehensif dan berkesinambungan. WCSIP mengawali kegiatan konservasi harimau Sumatera di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) pada tahun 1998, dan terus memperkuat usahanya dalam konservasi satwa langka ini melalui berbagai kegiatan lanjutan, seperti pembentukan Unit Perlindungan Harimau (TPU) yang beroperasi di tingkat lokal, dan Unit Anti Kejahatan Satwa Liar (WCU) yang beroperasi di tingkat regional. Visi WCSIP adalah melindungi satwa-satwa kunci, seperti harimau Sumatera, pada tingkat lansekap. Untuk mencapai visi tersebut, WC-SIP juga bekerja sama dengan para pemangku untuk mengidentifikasi dan memantau spesies kunci dan habitatnya, pemetaan perencanaan tata guna lahan, pelatihan konservasi dan penyadartahuan masyarakat, serta publikasi berbagai isu konservasi terkait harimau Sumatera, baik di tingkat nasional maupun internasional. Untuk penyelamatan harimau Sumatera, laporan ini menekankan pentingnya pemerintah Indonesia untuk: · mencegah aktivitas konversi hutan pada seluruh habitat harimau yang tersisa · melakukan upaya penegakan hukum dan memberikan hukuman yang signifikan kepada pelaku perburuan dan perdagangan satwa liar termasuk Harimau Sumatera · mendukung upaya mitigasi konflik harimau dan manusia LSM yang bekerja untuk pelestarian Harimau Sumatera di Indonesia termasuk diantaranya WARSI, Jikalahari, Kanopi, Yayasan Leuser Indonesia, Conservation International, Critical Ecosystem Partnership Fund, Save the Tiger Fund, Sumatera Tiger Conservation Project, & Flora Fauna International.

No comments: