Saturday, October 25, 2008

Ganggang Siap Gantikan Energi Fosil

INDONESIA diwarisi kekayaan keanekaragaman hayati. Satu-satunya negara di dunia yang bisa mengalahkan hanya Brasil dengan kawasan Amazonnya. Dengan kekayaan itu, banyak flora yang berpotensi dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia.
Kekayaan flora yang bersemayam di Tanah Air di antaranya aneka ganggang mikro atau mikroalga. Ganggang mikro yang dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia bukanlah barang baru. Selama ini ganggang mikro telah dimanfaatkan sebagai bahan baku kosmetik dan farmasi.
Baru-baru ini, peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) telah memanfaatkan ganggang mikro sebagai sumber energi terbarukan (renewable energy). Pemanfaatan ganggang mikro itu disampaikan pada seminar bertajuk The Next Prospective Environment Biofuel Feedstock di IPB International Convention Center (ICC), Botany Square, Bogor, kemarin.
Peneliti Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) IPB Mujizat Kawaroe mengatakan terdapat empat kelompok mikroalga atau ganggang mikro. Keempat kelompok ganggang mikro itu adalah diatom (Bacillariophyceae), ganggang hijau (Chlorophyceae), ganggang emas (Chrysophyceae), dan ganggang biru (Cyanophyceae).
Keempat kelompok ganggang itu bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku bioenergi. Dengan begitu, bila telah diproduksi massal, ganggang mikro bisa mengurangi ketergantungan masyarakat pada bahan bakar fosil. Yang menggembirakan, ternyata Indonesia dianugerahi ratusan ganggang mikro.
"SBRC IPB telah melakukan penelitian kandungan senyawa bioaktif mikroalga yang ideal sebagai bahan baku biofuel," kata Mujizat. Beberapa di antaranya Chlorella dan Dunaliella.
Ganggang mikro Chlorella ternyata mengandung 14%-22% lemak dan 17% karbohidrat. Ganggang Dunaliella mengandung 6% lemak dan 32% karbohidrat.
Mujizat menjelaskan ganggang mikro atau fitoplankton sangat mudah dikembangkan karena makanan utama ganggang mikro adalah karbon dioksida. Tak mengherankan jika budi daya ganggang mikro sangat mudah. Ganggang mikro hanya membutuhkan 7-10 hari masa tumbuh. Setelah itu, ganggang mikro sudah bisa dipetik hasilnya.
"Kegiatan kultivasi tumbuhan produsen primer itu menghemat ruang (save space), memiliki efisiensi dan efektivitas tinggi. Panen mikroalga minimal 30 kali lebih banyak dibandingkan tumbuhan darat," papar Mujizat.
Untuk mendapatkan 1 liter bioenergi dibutuhkan 5 ton mikroalga. Untuk lebih meyakinkan, IPB telah membandingkan produksi bioenergi per luas wilayah kultivasi. Terungkap bahwa mikroalga A setiap hektare menghasilkan 136.900 liter bioenergi dan mikroalga B per hektare menghasilkan 58.700 liter bioenergi. Sementara itu, tanaman kelapa sawit setiap hektare menghasilkan 5.960 liter, kelapa 2.689 liter, jarak pagar 1.892 liter, kedelai 44 liter, dan jagung menghasilkan 172 liter.
Direktur Utama PT Diatoms Cell Bioenergy Dudy Christian menilai secara ekonomi, pengembangan bioenergi mikroalga sangat prospektif. "Apalagi kondisi iklim tropis Indonesia dengan cahaya matahari sepanjang tahun sangat sesuai untuk kehidupan mikroalga. Mikroalga sangat prospektif dikembangkan di Indonesia."
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB Prof Dr Yonny Koesmaryono menambahkan, dua pertiga luas wilayah Indonesia terdiri dari perairan. "Pengembangan biofuel dari mikroalga sangat cocok untuk Indonesia yang perairannya lebih luas daripada daratan," paparnya.

1 comment:

. said...

Dalam mengembangkan penggunaan ganggang untuk biofuel ini sebaiknya dilakukan di lapangan dan melibatkan sebanyak banyaknya orang awam dengan bekerjasama dengan pemerintah daerah dari pada uangnya disimpan di SBI, sehingga segera memasyarakat, dibandingkan dengan penelitian secara labotatoris yang pembiayaannya harus diadakan oleh lembaga research bersangkutan.
Salam,
Eddy Boekoesoe